website ku moh irham zuhdi, isinya tentang pendidikan, agama, sosial dan politik kebangsaan serta cerita menarik dan karya tulis
Minggu, 16 Januari 2011
kisah lukman al Hakim
Dalam sejarah para nabi terdahulu banyak nilai kehidupan yang dapat kita petik untuk memperbaikin kualitas hidup kita sekarang. Salah satu diantaranya kisah perjalanan lukman al hakim yang abadi ditulis dalam Kitab Suci Al Quran : Suatu hari beliau sedang melakukan perjalanan dengan putranya, Sebagai Bapak dia menyaya ngi putranya yang masih kecil. Oleh karenanya Lukman menaruh anaknya diatas punggung kudanya dan dia menuntun kuda itu. Ditengah perjalanan beliau diolok-olok oleh orang-orang yang melihatnya : "Bagaimana orang tua itu, mengapa anaknya tidak memberi kesempatan naik diatas kuda, bukankah anaknya lebih kuat untuk berjalan kaki". Mendengar kalimat itu Lukman segera mengambil posisi dan menggantikan anaknya untuk menaiki kudanya sementara anaknya menuntun kuda itu. Sampai ditempat yang lain orang-orangpun berkomentar melihat Lukman dan anaknya : " Sungguh tidak tahu malu orang tua itu, dia sebagai orang tua hendaknya mengalah untuk tidak naik kuda dan biarkan anaknya yang menaiki kuda tersebut itu ". Lukman bingung dan segera turun dari kudanya. Lukman pun melanjutkan perjalanan dengan putranya dengan berjalan kaki sambil menuntun kudanya berdua dengan anaknya. Tiba di suatu tempat lain orang-orang menertawakan sikap kedua musafir tersebut dengan berkata : "Bodoh sekali orang itu, mengapa mereka tidak menaiki kudanya bukankah sangat menyenangkan menaiki kuda, mereka tidak akan lelah. Buat apa punya kuda jika hanya dituntun ?". Mendengar omongan orang-orang disekitarnya Lukman menjadi berpikir dan malu. Ada perasaan serba salah dari semua yang dilakukan, akhirnya beliau mengambil keputusan. Kedua orang anak dan bapak itu akhirnya menaiki kudanya berdua dan melanjutkan perjalanan. Sampai di tempat lain orang-orang disekitar perjalanan yang dilaluinya melihat dengan keheranan menatap Lukman bahkan mengumpat : " Dasar orang tidak berperikehewanan..!, masak seekor kuda harus menanggung beban dua orang sekaligus diatas punggungnya, kasihan sekali nasib kuda itu .... Lukman berpikir panjang atas kejadian yang dialaminya selama perjalanan dengan anaknya. Satupun tidak ada yang mendukungnya semua menyalahkan dirinya. Dari sepenggal kisah tadi banyak hikmah yang dapat kita ambil, satu diantaranya adalah kebenaran bukan ada pada penilaian orang lain tetapi kebenaran adalah sesuatu yang dapat menenangkan hati. Yang kedua Dalam menilai orang lain hendaknya tidak mudah mejustifikasi seseorang tetapi identifikasi masalah lebih dahulu. Wallohu a'alam bisshowaf
SELAMAT DATANG
Ini adalah blog baru saya. Saya baru belajar nge-Blog. Mohon bantuan saran inovasi tentang blog saya. Maklum guru yang baru sertifikasi, kepingin mengembangkan profesionalismenya sebagai guru yang sedang ditunggu oleh generasi penerus bangsa.
Langganan:
Komentar (Atom)